Pernah dengar istilah broken home kah ? istilah ini memang sudah tidak asing lagi di telinga kita ya. Broken home
yang diambil dari bahasa inggris ini memiliki arti keluarga yang
berantakan. Sepertinya, ini istilah yang dipakai untuk lebih
'menghaluskan' arti yang sebenarnya dalam bahasa indonesia. Pada
awalnya, aku mengira istilah broken home hanya ditujukan pada anak-anak yang orang tuanya bercerai. Padahal, makna dari broken home
bukan hanya ditujukan pada anak-anak yang orang tuanya bercerai saja,
Istilah ini pun bisa ditujukan pada anak-anak yang memiliki orang tua
utuh namun tidak harmonis, misal : ada kekerasan dalam rumah tangga,
kedua orang tua terlalu sibuk sehingga anak jadi kurang kasih sayang,
serta berbagai hal lain yang bisa menyebabkan kondisi mental anak
menjadi terganggu dan tidak sehat.
Menurutku, anak yang orang tuanya bercerai bukan berarti anak broken home. Tentunya tergantung kondisi anak tersebut pasca perceraian kedua orang tuanya, apakah lebih baik atau lebih buruk?, kalau lebih buruk oke lah kita bisa bilang broken home, tapi kalau lebih baik tentu tidak tepat jika istilah broken home ditujukan padanya.
Itu pula yang aku rasakan saat ini. Setelah bercerai aku merasa jauh lebih tenang, lebih sehat secara batin. Aku yakin kondisi psikis aku sangat berpengaruh terhadap anak. Kata-kata bijak "Happy Parents Make Happy Kids" it's absolutely right, dear ^^ Saat orang tua berada dalam keadaan tertekan, stress, feel unhappy, maka anak pun bisa merasakannya.. Sebaliknya, saat orang tua berada dalam kondisi jiwa yang tenang, bahagia..pasti anak pun bisa merasakannya. Pasca bercerai kehidupanku jauh lebih bahagia, begitu pun anakku.. Aku bisa melihatnya dari keceriaannya, kemudahannya dalam bersosialisasi, dan sikapnya yang lebih tenang.
Jadi, aku bisa dengan yakin mengatakan : don't call my daughter as a child of a broken home (jangan sebut putriku sebagai anak broken home). Saat perceraian adalah jalan terakhir yang harus di ambil, sebagai jalan keluar atas segala konflik orang tuanya, bukan berarti anak dari orang tua yang bercerai akan mengalami masalah dalam perjalanan hidupnya ^^
Menurutku, anak yang orang tuanya bercerai bukan berarti anak broken home. Tentunya tergantung kondisi anak tersebut pasca perceraian kedua orang tuanya, apakah lebih baik atau lebih buruk?, kalau lebih buruk oke lah kita bisa bilang broken home, tapi kalau lebih baik tentu tidak tepat jika istilah broken home ditujukan padanya.
Itu pula yang aku rasakan saat ini. Setelah bercerai aku merasa jauh lebih tenang, lebih sehat secara batin. Aku yakin kondisi psikis aku sangat berpengaruh terhadap anak. Kata-kata bijak "Happy Parents Make Happy Kids" it's absolutely right, dear ^^ Saat orang tua berada dalam keadaan tertekan, stress, feel unhappy, maka anak pun bisa merasakannya.. Sebaliknya, saat orang tua berada dalam kondisi jiwa yang tenang, bahagia..pasti anak pun bisa merasakannya. Pasca bercerai kehidupanku jauh lebih bahagia, begitu pun anakku.. Aku bisa melihatnya dari keceriaannya, kemudahannya dalam bersosialisasi, dan sikapnya yang lebih tenang.
Jadi, aku bisa dengan yakin mengatakan : don't call my daughter as a child of a broken home (jangan sebut putriku sebagai anak broken home). Saat perceraian adalah jalan terakhir yang harus di ambil, sebagai jalan keluar atas segala konflik orang tuanya, bukan berarti anak dari orang tua yang bercerai akan mengalami masalah dalam perjalanan hidupnya ^^
ANAK yang terlahir dari
keluarga tidak lengkap biasanya memiliki sifat “ekstra” atau dengan kata
lain nakal. Seto Mulyadi atau Kak Seto memberikan penjelasan kuat
mengapa anak tersebut begitu tidak bisa diatur.
Menurutnya, anak merupakan manusia bertubuh kecil yang mampu menyerap apa saja yang berada di sekitarnya. Mereka akan melihat orangtuanya melakukan tindakan buruk, kemudian dilontarkan ke orang lain seumurannya.
“Mereka kan sebetulnya tidak mengerti apa yang dilakukan. Dia hanya melihat dan meniru apa yang ada di sekelilingnya. Jadi, bukan anaknya yang nakal atau bandel, tetapi orangtuanya. Makanya kan sudah ada pembicaraan tentang bagaimana manajemen marah yang baik dan jangan di depan anak, mereka akan meniru apa yang dilakukan ayah bundanya,” jelas Seto Mulyadi kepada Okezone di kediamannya Cirendeu Permai, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Selain itu, kata dia, faktor lain yang membuat anak dari keluarga broken home nakal adalah kurangnya kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya. Menurutnya, cinta kasih yang kurang membuat anak mencari perhatian dengan caranya sendiri.
Selain membuat iseng anak lain, dia juga mampu berlaku tidak baik kepada teman-temannya.
“Anak yang kurang kasih sayang akan cari perhatian ke tempat lain dengan caranya sendiri. Dia belum paham bagaimana seharusnya mendapatkan perhatian. Yang ada hanya melakukan sebebasnya dan egois, karena dari orangtuanya tidak mengajarkan dengan baik dan mengelola manajemen marah mereka,” paparnya.
Kak Seto mengatakan bahwa kurang kasih sayang merupakan fenomena klasik mengapa anak keluarga broken home cenderung nakal. Poin pentingnya, orangtua harus sadar dan jangan mengedepankan ego dalam berumah tangga demi masa depan anak.
Tak
ada satupun orang yang mau menjadi anak broken home. Broken home adalah
kondisi hilangnya perhatian keluarga atau kurangnya kasih sayang dari
orang tua yang disebabkan oleh beberapa hal. Bisa karena perceraian,
sehingga anak hanya tinggal bersama satu orang tua kandung. Bahkan
akibat perceraian, banyak anak yang dititipkan ke kakek-neneknya, karena
orang tua tunggalnya sibuk bekerja. Kehilangan kasih sayang, Sedih,
kecewa, Sepi, dan kurang perhatian. Rumah seakan seperti neraka yang isinya orang tua yang selalu bertengkar. Belum
lagi orang sekitar yang selalu menganggap rendah tentang dirinya dan
keluarganya. Banyak ocehan dan ejekan yang setiap hari didengar. Itu
yang dirasakan dari mereka korban broken home. Miris memang, tapi memang
begitu kehidupan korban broken home yang sudah menjadi takdir dan harus
dilalui.
Banyak dari mereka yang melampiaskan kesepiannya dengan merokok, seks bebas, minuman keras, obat-obatan terlarang
bahkan ada yang sampai menjadi pelacur. Semuanya berawal dari keluarga
yang sangat tidak kondusif, orangtua yang tidak dewasa yang selalu
bertengkar didepan anak-anak mereka tanpa memikirkan dampak negatif bagi
anak-anak mereka. Dan faktor yang lain adalah teman lingkungan sekitar.
Karena adanya pengaruh buruk, otomatis kita dengan mudah terjerumus
kedalam dunia kelam.
Orang
tua masa kini terlalu sibuk dengan urusannya sendiri sampai mereka lupa
dengan anak mereka yang wajib diurusi, diperhatikan dan diberi kasih
sayang. Padahal seorang anak perlu orangtua yang bisa diajak bicara
dalam hal apapun. Ada setiap saat ketika anak membutuhkannya.
Banyak
sekali dampak negatif yang dapat disebabkan oleh broken home. Anak bisa
menjadi egois, ugal-ugalan, suka cari perhatian, kasar, tidak peduli
dengan sekitarnya, dan tidak peduli dengan nasihat orang lain.
Namun
siapa sangka ada dari beberapa korban home ada yang memang bisa
melampiaskan segala kekecawaanya, kekesepiannya dengan cara yang postif.
Teman saya, ada yang orangtuanya bercerai namun dia tidak dengan mudah
masuk kedalam dunia bebas. Dia malah mencari perhatian dengan cara
bersosialisasi dengan teman-temanya dalam organisasi. Dia termasuk anak
yang pandai, dia pernah memenangkan lomba debat bahasa inggris. Dan itu
termasuk prestasi yang membanggakan walaupun latar belakang anak itu
adalah korban broken home.
Jadi
tidak semua anak broken home adalah seorang anak yang memiliki
kepribadian tidak karuan. Itu tergantung dari dirinya sendiri yang mau
apa tidaknya menahan dirinya agar dirinya tidak masuk kedalam dunia
kelam.Banyak hal-hal positf yang bisa dilakukan, dunia ini terlalu indah
jika hanya untuk bebrbuat yang tak berguna. Berbuatlah yang sekiranya
bermanfaat.
Kita
bisa memulainya dengan mendekatkan diri pada Allah. Dengan begitu kita
bisa memiliki landasan agama yang kuat sehingga kita tidak akan
terjerumus pada hal-hal negatif yang dapat merusak diri. Menyibukkan
diri dengan hobi, selain bisa mengespresikkan potensi diri, hal itu juga
bisa mengurangi rasa kesepian. Harus mempunyai obsesi diri dalam meraih
prestasi,tujuan hidup dan cita-cita. Sebaiknya kita menjalin hubungan
yang baik dengan orangtua agar terjaganya keluarga yang harmonis. Dan
yang terakhir harus selektif memilih teman, karena lingkungan adalah
faktor yang kuat dalam pergaulan sehari-hari.
Semua
pasti ingin memiliki keluaraga yang lengkap, rukun, dan harmonis.
Memiliki orangtua selalu perhatian, dan penuh kasih sayang.
Hanya
sebatas mengingatkan bagi kalian yang hidup dalam keluarga yang
harmonis, diberikan kasih sayang orangtua, jangan sia-siakan kasih
sayang mereka, diluar sana masih banyak sekali anak-anak yang hidup
sendiri tanpa bantuan orang lain.


